
Penyakit Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium Diphteriae. Infeksi ini muncul dengan cepat dan mudah sekali menyebar. Pada tahap awal, gejalanya seperti sakit tenggorokan yang parah, demam ringan dan bengkak pada kelenjar di leher. Racun atau toksin yang dikeluarkan oleh bakteri dapat menyebabkan lapisan tebal berwarna putih keabu-abuan atau hitam pada tenggorokan dan hidung yang dapat mengakibatkan kesulitan bernafas dan menelan. Ciri-ciri inilah yang membedakan infeksi difteri berbeda dengan infeksi yang menyebabkan radang tenggorokan pada umumnya.
Apabila infeksi berlanjut maka akan timbul gejala :
- kesulitan bernafas atau menelan
- penglihatan menjadi ganda
- bicara menjadi cadel
- dapat menunjukkan tanda-tanda syok (kulit pucat dan dingin, detak jantung cepat, berkeringat dan cemas)
Toksin difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan dapat mengakibatkan komplikasi atas organ-organ lain, seperti jantung dan ginjal. Toksin dapat menyebabkan kerusakan pada jantung yang mempengaruhi kemampuannya untuk memompa darah keseluruh tubuh atau menyebabkan kerusakan ginjal untuk membersihkan darah. Selain itu toksin ini dapat menyebabkan kerusakan saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Bila tidak ditangani dengan cepat penderita dapat meninggal dunia. Anak usia balita, orang tua berusia lebih dari 60 tahun dan orang yang tidak pernah mendapat imunisasi difteri mempunyai resiko yang besar untuk tertular penyakit ini.
Penularan
Infeksi Difteri sangat menular. Penularannya dapat melalui bersin, batuk atau bahkan tertawa. Dapat juga menyebar bila seseorang mengambil tissue atau minum dari gelas yang sama dengan orang yang sudah terinfeksi bakteri. Orang yang telah terinfeksi oleh bakteri difteri, walaupun pada orang tersebut tidak timbul gejala, dapat menularkan infeksi tersebut ke orang lain. Masa inkubasi untuk infeksi bakteri berlangsung 1-6 hari.
Pencegahan
Untuk mencegah tertularnya infeksi difteri sangat tergantung pada pemberian vaksin difteri, tetanus dan pertusis pada anak (DTaP) dan pada orang dewasa yang belum mendapatkan imunisasi ini (Tdap). Setelah dosis tunggal Tdap, orang dewasa harus mendapat booster vaksin difteri/tetanus (dT) setiap 10 tahun sekali.
Pada anak-anak vaksin DTaP diberikan pada umur 2, 4 dan 6 bulan, dilanjutkan booster pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Vaksin booster Tdap dapat diberikan pada umur 11-12 tahun dan diberikan lagi vaksin dT setiap 10 tahun untuk mempertahankan perlindungan.

