
Pemberian Imunisasi HiB merupakan imunisasi anjuran nonprogram, seperti MMR (Mumps Measles Rubella), Meningitis, Influenza, IPD (Invasive Pneumococcal Disease), Tifoid, dan hepatitis A. Pemberian imunisasi ini bertujuan mencegah berbagai penyakit karena bakteri Haemophilus Influenzae type B (HiB). Meningitis adalah salah satu penyakit yang sangat serius dan pada kadar tertentu berakibat kerusakan otak permanen dan kematian. Salah satu komplikasi meningitis adalah radang paru-paru.
Meski Imunisasi HiB terbilang cukup penting, seperti juga imunisasi lainnya, baik yang wajib maupun anjuran, tak jarang memunculkan efek samping atau yang belakangan sering disebut sebagai Gejala Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi atau biasa disingkat KIPI. Nyeri, kemerahan, atau bengkak di tempat suntikan adalah efek samping dari Imunisasi HiB yang sering muncul setelah imunisasi.
Bengkak itu biasanya bertahan 1 sampai 3 hari . Pada kasus-kasus tertentu, anak yang baru saja menerima Imunisasi HiB akan mengalami rasa gelisah, sering menangis, kehilangan nafsu makan, dan demam.
Namun, jika dibandingkan imunisasi lainnya, efek samping imunisasi HiB ini termasuk cukup ringan. Misalnya, pada penerima Imunisasi BCG, bengkak dan bernanah di sekitar tempat suntikan tak jarang terjadi. Pembengkakan ini bisa terjadi 2-4 bulan setelah penyuntikan, terlebih jika kulitnya termasuk kulit sensitif. Selain itu, di sekitar tempat suntikan misalnya di ketiak, terkadang terjadi pembesaran kelenjar.
Langkah paling awal untuk mengatasi efek samping dari imunisasi HiB ini adalah dengan melempar jauh-jauh kepanikan. Sebelum memutuskan untuk memberikan Imunisasi HiB, pastikan bahwa anak yang akan menerimanya tidak sedang sakit dan asupan gizinya selama ini seimbang. Hal ini akan meminimalisasi efek samping. Pengetahuan tentang efek samping Imunisasi Hib dan cara mengatasinya sangat penting diketahui oleh para orang tua. Jika terjadi demam, pengompresan dapat dilakukan seperti ketika anak mengalami demam biasa. Pengompresan juga dapat dilakukan pada pembengkakan di sekitar bekas suntikan. Jika masih menyusui, pemberian Air Susu Ibu (ASI) harus terus berjalan.

