Penanganan TB Paru Pada Bayi

Flek paru atau Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan bekateri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini tidak hanya dapat menyerang orang dewasa, tetapi juga balita. Penyakit ini menyerang balita melalui doplet atau air udara dari penderita TB yang terbawa keluar ketika mereka berbicara, batuk juga bersin. Meskipun disebabkan bakteri yang sama, penanganan TB paru pada bayi dan dewasa memiliki prosedur yang berbeda.

Tuberkulosis

Penyakit tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan infeksi bakteri Mycobaterium tuberculosis. Bakteri ini bersifat sistemik atau yang dapat menyerang hampir seluruh organ vital seorang individu. Tidak hanya menyerang paru, virus TB dapat menyerang ginjal juga otak.
Pada tahun 1992, WHO mengklasifikasikan tuberculosis sebagai Global Emergency atas angka kematian yang disebabkannya. Di Negara kita, Indonesia, tuberculosis juga merupaka penyakit yang telah lama menjadi momok mematikan. Indonesia sendiri menempati peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita tuberculosis.

Penanganan tuberculosis memakan waktu relatif lama. Setidaknya dibutuhkan 6 bulan pengobatan. Setelah periode 6 bulan berakhir, makan pasien akan menjalani serangkaian tes untuk menentukan apa bakteri tuberculosis benar-benar hilang atau diperlukan pengobatan lanjutan.
Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari TBC sedunia karena pada tanggal itu di tahun 1882, Robert Koch mempresentasikan penyebab penyakit TBC di Jerman.

Tuberkulosis Paru Pada Bayi
Menginfeksi orang dewasa, virus tuberculosis ditularkan pada balita usia di bawah 1 tahun. Gejala dan penanganan TB paru pada bayi memiliki prosedur yang relatif berbeda dengan penanganan yang diberikan pada orang dewasa. Berikut ini adalah gejala bayi yang terserang TB paru antara lain, adalah:

  • Berat badan turun drastic selama kurun waktu 3 bulan berturut-turut. Kondisi tersebut terus berlanjut bahkan ketika bayi telah mendapatkan penanganan gizi yang baik.
  • Nafsu makan menurun.
  • Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas serta selalu mengeluarkan kerinat dingin pada malam hari.
  • Anak dengan TB paru biasanya mengalami pembengkakan kelenjar limfa superfisialis
  • Batuk lebih dari 3 minggu
  • Tanda cairan di dada

Penanganan Tuberkulosis
Penanganan TB paru pada bayi dapat dilakukan dengan melakukan terapi tuberkulosa. Terapi tuberkulosa dapat dilakukan pada penderita tuberculosis yang masih bersifat peka terhadap obat. Tanpa terapi tuberkulosa, TB paru dapat berakibat pada kematian pada si penderita di 5 tahun pertama terjangkit penyakit tersebut. Selain terapi tuberkulosa, orang tua dapat memberikan obat-obatan yang dapat melemahkan bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Obat yang digunakan untuk penanganan TB paru pada bayi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, obat primer dan obar sekunder. Masing-masing kelompok obat terdiri dari berbagai jenis, yaitu:

  • Obat primer: INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
    Obat primer ini adalah obat-obatan yang diberikan kepada penderita tuberculosis paru selama 6 hingga 9 bulan masa penyembuhan. Penderita dengan tingkat toksisitas yang masih relative rendah masih bisa disembuhkan dengan obat-obatan ini.
  • Obat sekunder: Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapremosin, dan Kanamisin.

Sedangkan dalam pemberian obat di atas, penanganan TB paru pada bayi menggunakan dua jenis dosis di bawah ini:

  1. NH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
  2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).

Yang terpenting dalam penanganan TB paru pada bayi adalah memastikan obat dikonsumsi secara teratur dan memastikan lingkungan tetap bersih dan terhindar dari bakteri-bakteri yang dapat memperburuk keadaan anak.