
Hidup di zaman modern seperti sekarang di satu sisi membuat tanggung-jawab membesarkan anak menjadi lebih praktis dan mudah. Di sisi lain membuat banyak orang tua menilai kecerdasan anak hanya dari nilai sekolah, namun lupa bahwa anak juga perlu berjuang secara mandiri. Ironis, otak anak tidak terbiasa menemukan solusi untuk masalah kesehariannya. Anak –anak yang tampak cerdas dalam mengoperasikan perangkat elektronik canggih tertentu belum tentu memiliki kemampuan bahasa yang baik, atau memiliki teman yang banyak. Akibatnya, ibu senewen ketika nilai ujian Bahasa Indonesia anak melorot padahal sudah diberi les yang cukup.
Ike R. Sugianto, Psi, seorang psikolog sekaligus instruktur Internasional Brain Gym mengatakan, kecerdasan intelektual hanyalah satu dari beberapa macam jenis kecerdasan pada manusia. Antara lain adalah kecerdasan emosi, dan kecerdasan gerak. Jadi, seorang anak tidak bisa tikatakan tidak cerdas hanya karena nilai ujiannya jelek. Sebaliknya kecerdasan atau intelejensi anak terbentuk melalui beberapa tingkatan.
Yang pertama adalah attentional intelegence, atau kemampuan anak untuk focus pada satu hal dan mengerjakan tugas yang diberikan sampai selesai. Kemudian emotional intelligence yang berfungsi untuk mengenali dan mengendalikan emosi. Didalamnya termasuk juga stabilitas emosi dan kemampuan untuk mengorganisir baik itu perasaan, mengatur barang-barangnya, mengatul penampilan, pikiran serta jadwal kesehariannya. Tingkatan selanjutnya adalah informational intelegence, atau kemampuan untuk mengetahui suatu hal, berproses dan menalar. Tidak bisa sampai ke informational intelegence kalu tidak melewati tahap sebelumnya.
Menurut Ike, mengatakan ada kecenderungan kecerdasan anak diera modern ini semakin menurun. Kebanyakan anak zaman sekarang bagaikan gedung yang terlihat kokoh namun jika terkenah suatu masalah akan mudah runtuh. Anak terbilang pintar tapi tidak bisa menahan emosi, sekali mendapat nilai ujian jelek langsung marah dan menangis. Dalam kerangka ilmu perkembangan otak, seseorang dapat dikatakan cerdas apabila bisa focus pada masalah sekaligus mampu mengaendalikan emosi. Kecerdasan tertinggi bukan pada pernyataan ‘aku tahu apa ini’, namun ‘aku tahu siapa aku ini’.
Faktor penentu kecerdasan pada umumnya adalah gen dan latihan. Jika gen adalah bawaan seseorang ketika lahir, maka latihan adalah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan otak anak. Dan factor latihan inilah yang semakin hari semakin dilupakan oleh orang tua modern. Pola hidup yang kurang bergerak secara fisik secara tidak langsung juga membuat otak tidak mendapat stimulai yang optimal. Anak millennium terjebak dalam era digital. Banyak ibu memberikan gadget agar anak duduk tenang dan tidak menangis, ini bahaya, karena gerak anak terbatas, paling hanya jari telunjuk saja, belum lagi gelombang elektromagnetik gadget yang ditimbulkan secara lambat namun pasti membuat perkembangan otak terganggu. Kecanduan gadget otomatis membuat ruang sosialisasi anak menjadi berkurang. Walaupun banyak yang mengatakan nilai kreatifitas, kepemimpinan, dan kerjasama bisa dibangun melalui permainan elektronik dan game online, namun faktanya pengalaman yang dialami tidak akan sama jika anak merasakan sendiri.
Dunia anak sejatinya adalah bermain, maka penggunaan gadget harus tetap dibatasi. Memang tidak mungkin jika anak tidak boleh sama sekali menggunakan teknologi seperti iPad, iPhone, tablet, playstation player, MP4, atau BlackBerry karena akan membuat mereka gagap tekhnologi alias gaptek. Namun, dari pada melihat gambar gelas pada layar laptop, lebih baik memberikan contoh gelas yang sebenarnya.
Masalah menurunnya kecerdasan anak, mau tidak mau membawa ibu menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam hal ini, karena ibu menjadi sumber utama dan pertama bagi anak untuk belajar mengenal lingkungan dan diri sendiri. Cara paling muda untuk menstimulasi kecerdasan otak anak adalah dengan bermain, baik secara visual maupun dengan alam sekitar dan tentunya dengan memperhatikan kecukupan gizi yang sesuai dengan masa tumbuh kembang anak. Oleh karena itu ibu harus menyediakan diri dan waktu untuk menemani anak belajar dan juga bermain. Karena dunia anak banyak berkembang lewat permaianan fisik.

