
Setelah melahirkan memang ada proses pendarahan yang harus dialami oleh semua ibu, biasanya darah tersebut seperti ketika sedang menstruasi. Bahkan, darahnya jauh lebih banyak sehingga pembalut yang digunakanpun bukan pembalut yang biasa digunakan ketika sedang mens. Darah segar yang keluar terus menerus hingga gumpalan-gumpalan darah yang sering keluar kerapkali membuat wanita khawatir, apakah darah yang keluar dalam batas yang normal atau berlebihan? Terlebih rasa sakit jahitan di miss V sering membuat wanita semakin gelisah. Antara ingin cepat pulih luka jahitannya namun miss V selalu basah karena darah yang terus keluar.
Memang, risiko setelah persalinan yang paling sering terjadi adalah risiko terjadinya pendarahan (bleeding). Kondisi ini dianggap normal, karena tubuh sedang merehabilitasi kembali rahim yang sudah digunakan untuk hamil. Rahim sedang menyembuhkan diri dari luka yang terjadi dalam proses kehamilan. Pendarahan menjadi salah satu tanda tubuh yang terus berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pendarahan itu biasanya langsung dimonitor oleh dokter atau bidan yang membantu persalinan dan malah biasa diatasi atau selesai dengan sendirinya. Namun, tidak jarang pendarahan yang terus menerus dan sulit berhenti menjadi salah satu gejala bahwa kondisi dalam rahim ibu tidaklah sehat. Kondisi ini bisa sangat membahayakan nyawa sang ibu, apalagi jika pendarahan tersebut disertai dengan rasa sakit yang luar biasa. Sebenarnya faktor apa saja yang menyebabkan bleeding ini? Bagaimana mengecek pendarahan yang terjadi normal atau tidak wajar?
Normalnya tak lebih 500 cc darah itu keluar setelah terjadinya persalinan. Hal ini biasa terjadi karena semua pembuluh darah di dalam rahim, terutama di daerah menempelnya plasenta atau ari-ari terbuka karena proses melahirkan sehingga mengakibatkan darah akan mengalir dengan deras. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah Atonia uteri yakni kurang baiknya otot rahim untuk kontraksi atau tak ada kontraksi sama sekali hingga lepasnya plasenta dari rahim tidak dapat dihentikan. Pada kasus pendarahan ini tentu saja dianggap normal sebab pelepasan plasenta dalam rahim memang akan mengeluarkan darah segar.
Namun, bila Anda termasuk wanita yang memiliki banyak anak dengan jangka waktu melahirkan yang terlalu rapat, maka Anda harus mewaspadai terjadinya pendarahan setelah melahirkan karena ini juga merupakan salah satu penyebab bahwa rahim Anda merasa lelah untuk kontraksi.
Tapi, tentu saja Anda tidak perlu merasa cemas menghadapi persalinan meski adanya risiko pendarahan tersebut. Pendarahan adalah sesuatu yang wajar walau pada kondisi tertentu menjadi salah satu gejala yang harus Anda waspadai.
Lalu, apa yang harus dilakukan dalam menghadapi pendarahan ini? Seperti halnya menghadapi momen melahirkan, Anda harus melakukan berbagai pencegahan risiko melahirkan sejak dini dengan selalu melakukan kontrol rutin kehamilan sejak awal hamil apalagi jika kehamilan Anda sudah mencapai usia 24 minggu, selain itu jangan terlalu lelah melakukan aktifitas di usia kehamilan mencapai 24 minggu, jangan lupa untuk memperhatikan konsumsi makanan sehat setiap harinya. Makanan yang sehat akan membantu memperkuat tubuh serta mengurangi risiko proses kelahiran. Pada usia kehamilan 30 minggu sebaiknya mulai menghentikan kebiasaan bepergian yang jauh, apalagi jika menggunakan pesawat. Anda juga harus mulai bijak mengatur hubungan seks, bagaimana posisi ketika berhubungan intim ataupun gerakan yang dilakukan. Periksa kadar hb untuk mengetahui jenis golongan darah dan rhesus ibu hamil untuk persiapan transfusi darah jika diperlukan, suplemen penambah darah juga harus diperhatikan jika Anda memiliki riwayat anemia.
Memiliki informasi dan pemahaman yang tepat mengenai pendarahan setelah melahirkan membuat ibu hamil lebih siap melahirkan dan tidak panik ketika hal itu terjadi. Ketenangan dalam menghadapi proses pra dan pasca melahirkan semakin memperlancar proses kelahiran. Memang, kondisi fisik kerapkali dipengaruhi oleh kondisi psikis wanita yang sedang hamil ataupun melahirkan. Maka, dengan semakin menguatkan kondisi psikis akan menguatkan kondisi fisik.

