Penanganan Melahirkan Darurat

Semua wanita hamil berharap bisa melahirkan secara normal apapun yang harus dihadapinya. Bahkan, mereka lebih memilih menyelamatkan bayinya dibandingkan memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Maka, tidak heran ada peribahasa mengatakan kasih ibu sepanjang masa. Kasih ibu memang tidak ada batasannya, sampai kapanpun juga.

Namun, sayangnya tidak selamanya wanita hamil bisa melahirkan dalam situasi dan kondisi normal, dalam arti proses melahirkan yang dipersiapkan dengan cermat. Baik dari segi penentuan tempat, penolong proses kelahiran, maupun hal-hal teknis seperti kelengkapan pakaian sang bayi maupun ibu. Terutama untuk para wanita yang memiliki kelemahan fisik tertentu, seperti misalnya menderita penyakit akibat kehamilan, seperti anemia, diabetes, dan darah tinggi. Tidak jarang ibu hamil yang terlihat baik-baik saja selama kehamilan, tiba-tiba mengalami ‘drop’ saat menjelang persalinan. Pada kondisi tertentu, penanganan proses kelahiran darurat harus dilakukan.

Sebelum dilakukan penanganan melahirkan darurat, sebaiknya kita harus mengetahui tanda-tanda gawat ibu hamil, yakni adanya peningkatan denyut nadi, atau malah melemah, menurunnya tekanan darah, nafas cepat dan dangkal, dehidrasi karena muntah dan diare tiada henti serta gelisah. Bila hal itu sudah terjadi, orang di sekitar ibu hamil harus tanggap dan langsung dibawa ke rumah sakit.

Persalinan macet, adalah salah satu tanda terjadinya kelahiran secara darurat. Ini bisa dilihat tandanya yakni ibu yang akan melahirkan tampak lelah dan lemah, kontraksi tidak teratur tapi kuat, dilaktasi serviks lambat atau tidak terjadi, tidak terjadi penurunan bagian bawah janin walaupun kontraksinya sangat kuat, timbul rasa nyeri hebat, dan kontraksi uterus yang terlalu kuat atau terlalu sering namun tak terjadi pembukaan yang signifikan.

Apa yang harus dilakukan pada kondisi ini? Bidan sebaiknya dipanggil jika pasien mulai mulas/ketuban pecah. Bidan atau dokter yang sudah terlatih, sebaiknya menggunakan partograf dan catatan persalinan serta memperoleh identifikasi presentasi abnormal. Tanggap jika his terlalu kuat, lemah sekali atau cepat. Jaga ibu dalam kondisi itu agar tak sampai mengalami dehidrasi. Menganjurkan pasien banyak jalan-jalan, mintalah sering buang air kecil selama proses persalinan, karena kandung kemih penuh akan memperlambat penurunan bayi dan membuat tak nyaman si ibu.

Penanganan melahirkan darurat pada persalinan macet harus diawasi dengan seksama. Bila bisa ditangani oleh bidan dengan melakukan episiotomi (pengguntingan) saat persalinan akibat macet atau istilah kedokterannya adalah ‘distosia’ , maka mintalah suami atau dua orang lain untuk membantu lutut ibu menekuk dan tertekan mantap didada dalam keadaan terlentang. Jika vagina panas, kurangnya cairan ketuban, dan his tiba-tiba berhenti atau mengalami syok berat, maka tak usah berlama lagi. Segera larikan ke rumah sakit yang bisa menangani dengan fasilitas lengkap. Hal ini harus dilakukan dengan cepat dan tepat untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Kita semua menginginkan sebuah persalinan atau cara melahirkan dengan cara yang normal, namun jika proses melahirkan tidak aman bagi ibu ataupun bayi, orang-orang yang ada di sekeliling calon ibu harus memahami cara melahirkan dengan proses apapun dalam rangka menyelamatkan keduanya.