
Jika berencana memilih metode persalinan bedah Caesar (c-section), maka perlu dipertimbangkan lagi apakah pilihan tersebut tepat atau tidak. Jangan hanya mengikuti tren! Metode persalinan bedah Caesar memang semakin meningkat di seluruh dunia menjadi tren pilihan para ibu untuk melahirkan anaknya. Tetapi harus diingat bahwa metode ini sangat beresiko seperti bayi dapat mengalami masalah pernapasan.
Persalinan Bedah Caesar vs Persalinan Normal
Berdasarkan penelitian terbaru oleh Anne Hansen dari Aarhus University Hospital, Denmark memperlihatkan bahwa bayi yang lahir melalui proses persalinan bedah Caesar cenderung mengalami masalah pernapasan 4 kali lebih besar dibanding melalui persalinan normal. Penelitian menunjukkan bahwa 10 persen bayi yang lahir melalui operasi caesar pada minggu ke-37 mengalami masalah pernapasan dan hanya 2,8 persen bayi yang dilahirkan melalui persalinan normal pada minggu ke-37 memiliki masalah yang sama. Sedangkan persalinan pada minggu ke-39, rasio masalah pernapasan turun menjadi 2,1 persen untuk bayi caesar dan 1,1 persen untuk bayi lahir melalui persalinan normal. Bayi dengan masalah pernapasan sering ditempatkan dalam inkubator dan diberi perawatan oksigen.
Namun penelitian Hansen tidak menjelaskan mengapa resiko masalah pernapasan meningkat pada metode persalinan bedah Caesar, tetapi beberapa peneliti mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena perubahan hormonal dan fisiologis pada tubuh ibu dan bayi selama persalinan. Metode persalinan bedah Caesar harus menjadi pilihan terakhir untuk proses kelahiran. Seperti jika bayi dalam kandungan berada dalam keadaan krisis, yang dalam banyak kasus ditentukan oleh denyut jantung janin lemah, maka metode persalinan darurat bedah Caesar bisa menyelamatkan nyawa ibu maupun bayi. Tetapi pada kenyataannya keputusan melakukan bedah Caesar justru meningkat secara drastis. Kebanyakan para ibu memilih metode persalinan bedah Caesar dibanding persalinan normal karena rasa trauma atas persalinan anak sebelumnya atau untuk keluar dari rasa takut akan persalinan.
Pada Oktober 2007, British Medical Journal menerbitkan hasil penelitian di mana lebih dari 94.000 kelahiran mendapati para ibu yang berencana melakukan bedah Caesar telah menempatkan diri mereka dan bayi mereka pada peningkatan resiko komplikasi serius dan kematian. Lebih dari setengah tindakan metode persalinan bedah Caesar mengalami komplikasi serius. Tingkat kematian ibu yang melakukan Caesar adalah 26 kali lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan secara normal. Resiko memerlukan tindakan histerektomi setelah bedah Caesar empat kali lebih tinggi dibanding setelah persalinan normal.
Resiko Bedah Caesar: Ambil Keputusan yang Tepat!
Sebagaimana telah disinggung di atas, resiko persalinan bedah Caesar tidak hanya dialami oleh sang ibu tetapi juga bayi yang dilahirkannya. Berikut resiko metode persalinan bedah Caesar yang harus diketahui, yang wajib menjadi bahan pertimbangan bagi para ibu dalam mengambil keputusan terhadap metode persalinan yang akan dipilih di luar alasan medis (rekomendasi dokter karena persalinan normal tidak mungkin dilakukan).
Bagi bayi ─ bayi yang dilahirkan melalui bedah Caesar dapat berada dalam kondisi bahaya mengalami kerusakan paru-paru serius yang menyebabkan kekurangan oksigen di mana kondisi seperti itu hanya ditemukan pada bayi yang lahir prematur.
Bagi ibu ─ para ibu yang melakukan tindakan metode persalinan bedah Caesar berulang kali telah meningkatkan persentase bahaya dan resiko bagi dirinya, antara lain:
- Rahim pecah karena bekas luka sayatan di rahim rentan robek atau pecah.
- Histerektomi (pengangkatan rahim) karena terjadi kasus seperti pendarahan hebat yang tidak bisa ditangani, plasenta melekat pada rahim.
- Transfusi darah akibat pendarahan hebat.
- Perlekatan jaringan parut/bekas luka dapat menempel ke organ lain yang menyebabkan rasa tidak nyaman,
nyeri/rasa sakit, dan komplikasi pada bedah Caesar berikutnya. - Plasenta Previa yaitu plasenta menutupi leher rahim yang terbuka yang bisa menyebabkan pendarahan berat.
- Plasenta Akreta yaitu plasenta menempel terlalu dalam ke dinding rahim yang bisa menyebabkan kerusakan pada rahim maupun organ lainnya dan kemungkinan pendarahan ketika mencoba untuk melakukan pengangkatan rahim.
Terakhir, jika akan melakukan metode persalinan bedah Caesar ulangan untuk persalinan anak berikutnya, setidaknya ibu harus menunggu setahun penuh untuk hamil lagi setelah bedah Caesar sebelumnya. Hal ini akan memberikan kesempatan bagi bekas luka sayatan internal maupun eksternal sebelumnya untuk benar-benar dalam kondisi sembuh total. Semakin lama menunggu melakukan bedah Caesar berikutnya, semakin baik untuk menghindari resiko yang ditimbulkannya.

