
Menjelang kelahiran bayi, pada umumnya menginjak bulan ke sembilan, perlengkapan bayi sudah lengkap. Selimut bayi, bedongan, baju bayi, popok, bedak bayi dan box bayi sudah tersedia. Kamar bayi sudah disiapkan begitu pula dengan kereta bayi yang dipilih dengan warna yang sesuai dengan perkiraan jenis kelamin bayi.
Calon ibu telah melahap semua informasi tentang melahirkan, mengantongi nomor telepon rumah bersalin, berkonsultasi lebih sering dengan bidan atau dokter kandungan dan selalu memantau Hari Perkiraan Lahir (HPL) berharap calon ayah bisa mendampingi ketika melahirkan nanti.
Lantas kapan sebaiknya suami cuti pada masa persalinan istri? Mengingat cuti yang diterima apabila bekerja di kantor adalah 12 hari dalam setahun. Memang pada beberapa perusahaan, ada fasilitas cuti ketika istri melahirkan. Lamanya 3 hari. Namun bagi yang tidak ada cuti tersebut, maka tetap 12 hari dalam setahun.
Faktor Pertimbangan Penentuan Cuti
Banyak faktor untuk yang perlu dipertimbangkan untuk menentukan cuti tersebut.
- Lokasi tempat kerja calon ayah. Apabila calon ayah bekerja dalam kota maka tidak perlu jauh hari menentukan cuti. Hanya cukup siaga dan menginformasikan pada atasan juga rekan kerja jika sewaktu-waktu istri melahirkan, maka akan ada pelimpahan pekerjaan untuk sementara agar tugas tetap berjalan lancar. Namun jika di luar kota yang menempuh perjalanan belasan jam maka sebaiknya mengambil cuti agak panjang. Tiga hari sebelumnya adalah waktu yang terbaik.
- Kondisi Istri. Apabila tidak ada masalah dalam proses kelahiran menurut perkiraan dokter maka akan lebih santai. Untuk kelahiran yang normal, cuti bisa dimulai begitu tanda-tanda melahirkan mulai terasa nyata. Namun jika mengharuskan caesar, paling tidak menemani istri di rumah sakit hingga lima hari. Dan siap sehari sebelum operasi.
Kehadiran suami dan keikhlasan suami untuk cuti pada masa persalinan istri akan memberi semangat besar bagi istri dan memberi kekuatan dalam menghadapi persalinan. Dimana persalinan ini adalah pertarungan antara hidup dan mati. Suami yang tanggap akan memberi dukungan dan membesarkan hati istri sehingga siap secara mental dan tidak panik saat melahirkan nanti.

