Imunisasi MMR dan Autisme

Imunisasi MMR merupakan imunisasi yang melindungi balita dari serangan virus campak, gondongan, dan rubella. Ketiga penyakit tersebut merupakan penyakit infeksi yang bisa menyebabkan komplikasi cukup berat bagi anak. Meskipun Imunisasi MMR bukanlah imunisasi yang diwajibkan dari pemerintah Indonesia, namun imunisasi MMR merupakan salah satu imunisasi yang dianjurkan oleh IDAI karena dipercaya mampu memberikan perlindungan kepada anak-anak dari ancaman penyakit berbahaya hingga 90%. Namun pada kenyataannya masih banyak orang tua yang ragu bahkan enggan membawa anaknya untuk imunisasi MMR. Hal itu terjadi seiring dengan gencarnya rumor miring yang beredar di masyarakat bahwa imunisasi MMR merupakan penyebab autisme. Nah, jika menilik beragam kontroversi yang beredar tersebut, maka sebagai orang tua, kita harus memastikan adakah hubungan antara imunisasi MMR dan autisme?

Pengetahuan tentang imunisasi MMR dan autisme sangatlah penting untuk diketahui para orang tua, karena jangan sampai kita hanya bisa ikut-ikutan percaya pada rumor yang beredar di masyarakat tanpa mengetahui kebenarannya. Dan jangan sampai hanya karena ikut-ikutan menolak imunisasi MMR ini, kita justru mengorbankan kesehatan anak-anak kita. Tahukah Anda awal mula terjadinya rumor tentang imunisasi dapat menyebabkan autisme? Semua bermula saat Dr. Andrew Wakefield melaporkan hasil penelitian atas 12 anak yang menerima vaksin MMR. Nah, dari 12 anak tersebut, dilaporkan bahwa 8 anak mengalami gangguan pencernaan dan menderita autisme. Penyebabnya tak lain karena penggunaan thimerosal bermerkuri pada vaksin MMR.

Tidak bisa dipungkiri jika para orang tua mengalami ketakutan saat mengetahui terdapat hubungan antara imunisasi MMR dan autisme. Namun kebenaran terungkap, negara Finlandia yang sudah menggunakan vaksin MMR selama bertahun-tahun membuktikan bahwa tidak ada kasus autisme akibat vaksin MMR. Bahkan di Negara Denmark juga melakukan penelitian terhadap anak kelahiran bulan Januari 1991 hingga Desember 1998. Dari semua anak yang diberikan vaksin MMR, ternyata tidak menunjukkan adanya kasus autisme. Sedangkan pemerintah Jepang, memutuskan menghentikan penggunaan vaksin MMR ini dari tahun1993. Namun kenyataannya, kasus autisme tetap meningkat meskipun penggunaan vaksin MMR telah dihentikan. Dari sini, bisa kita ambil kesimpulan bahwa autism tidak ada hubungannya dengan imunisasi MMR.

Hubungan imunisasi MMR dan autism masih terus dikaji hingga sekarang. Mengingat pentingnya imunisasi MMR bagi kesehatan anak, maka ada baiknya jika orang tua melakukan konsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan solusi yang tepat. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan pada anak, biasanya sebagian dokter menyarankan untuk menunda imunisasi MMR hingga anak bisa bicara.