Apakah Komunikasi Asertif Itu?

Ada 3 macam tipe komunikasi :

  • Pasif : Orang yang pasif cenderung tidak mengatakan apa yang mereka pikirkan atau rasakan karena mereka takut akan konsekuensinya, tidak percaya akan hak mereka atau berpikir hak orang lain lebih penting. Mereka takut untuk mengatakan tidak.
  • Agresif : Orang yang agresif selalu mengatakan apa yang mereka inginkan, rasakan atau mereka percayai dengan menggunakan suara yang keras dan bahasa hebat. Mereka tidak peduli dengan perasaan orang lain.
  • Asertif : Orang yang berkomunikasi secara asertif dapat mengutarakan kebutuhan dan perasaan mereka dengan lugas dan sopan. Menggunakan kontak mata, menggunakan suara tegas dan mau mendengarkan orang lain.

Mulai dari anak belajar berbicara, kita sebagai orang tua mengajarkan mereka bagaimana agar mereka mau mendengarkan kita. Kita ingin agar anak patuh, mendengarkan nasihat orang dewasa dan bersikap baik. Tetapi kita kadang lupa untuk mengajarkan mereka bagaimana cara mengemukakan pendapat dan perasaannya secara lugas.

Padahal, salah satu ketrampilan penting yang harus orang tua ajarkan kepada anak adalah bagaimana cara mereka menyatakan keinginan dan perasaan mereka untuk menciptakan perubahan yang mereka inginkan. Anak asertif yakin bahwa ia akan didengar dengan cara yang dapat memberi dampak positif bagi lingkungannya. Ketika seseorang menyatakan keinginannya secara tegas dan lugas, mereka tidak berusaha mengendalikan orang lain melalui agresi, tetapi mereka dapat mengendalikan orang lain melalui ketaatan. Komunikasi asertif dapat mengurangi stres dan kemarahan serta membantu anak meningkatkan ketrampilan dalam memecahkan masalah dan menghargai orang lain. Anak akan mendapatkan bantuan yang dia harapkan, menghindari interaksi negatif dan merasa yakin dengan pilihan mereka.

Contoh Anak yang Memiliki Ketrampilan Komunikasi Asertif.

Lia dan Lili adalah sahabat. Tetapi akhir-akhir ini Lia melakukan hal yang mengusik Lili. Lia sering berbisik-bisik dengan Tika. Ketika Lili menanyakan apa yang Lia bisikan, Lia menjawab. “Oh, bukan apa-apa.” Lalu Lia dan Tika tertawa. Setelah Lia mengulangi perbuatannya selama 3 kali, Lili memutuskan untuk mengatakan kepada Lia bagaimana perasaannya. “Saya merasa diabaikan ketika kamu berbisik-bisik dengan Tika dan mengatakan kepada saya hal itu bukan apa-apa. Saya menyukai kamu sebagai teman, tetapi saya tidak akan bermain bersamamu lagi karena kamu menyakiti hati saya. Saya akan bermain dengan yang lain kalau hal ini berlanjut.” Setelah Lili mengatakan kepada Lia bagaimana perasaannya, Lia sadar bahwa sikapnya membuat perasaan Lili tersakiti. Lia berkata kepada Lili, “Maafkan saya Lili. Saya hanya berkata kepada Tika bahwa saya menyukai warna pink. Saya tidak sadar bahwa saya menyakiti hatimu ketika saya tidak mengatakan apa yang saya bisikan kepada Tika dan kemudian tertawa. Saya tidak akan melakukan hal tersebut lagi.”

Lili menggunakan ketrampilan untuk mengemukakan pendapatnya secara tegas dan menciptakan perubahan positif dalam hidupnya. Ia tidak menyerang atau berteriak kepada Lia, atau berusaha mengajak teman-teman lainnya untuk memusuhi Lia, Lili juga tidak tinggal diam dan membiarkan hal itu berlanjut dan melukai perasaannya. Lili menyadari bahwa dengan mengemukakan pendapatnya secara tegas memberikannya kepercayaan diri yang ia butuhkan untuk mengubah kejadian yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.