Mengenal dan Mengatasi Bayi Melalui Suaranya

Bagi manusia, suara adalah media utama untuk berkomunikasi. Begitu pula pada bayi, sekalipun belum melihat sosok ibunya, bayi telah terbiasa dengan suara sang ibu sejak dalam kandungan. Dalam perkembangan selanjutnya, suara menjadi salah satu unsur untuk membentuk konsep, mengenal, mendapatkan, atau memberitahukan sesuatu. Ia menggunakan suara melengking untuk menarik perhatian ibunya, mengeluarkan suara tangis untuk memberitahu bahwa dia lapar, dan mengeluarkan suara lembut ketika dia kenyang dan puas.

Yang Dipelajari Bayi Melalui Suara

Bayi belajar membedakan objek di sekelilingnya melalui suara. Dia belajar mengenal siapa pengasuhnya dari suara sang pengasuh. Bayi juga belajar mengenal siapa ayah, ibu, atau nenek dari perbedaan suara yang ditimbulkan. Untuk objek, bayi akan mengenal mainan atau suara hewan tertentu yang dikenalkan padanya.

Bayi mengenali nama sebuah objek dari suara yang diasosiasikan dengan objek tersebut. Misalnya, sang ibu memegang buku, dan berkata “ini Buku”. Suara “ini buku” dengan benda yang dipegang ibu membentuk asosiasi, yang dipahami oleh bayi. Meskipun belum bisa mengucapkan kata tersebut, bayi sudah mengetahui kaitannya.

Sekalipun belum bisa bicara, otak bayi akan merekam banyak kosakata yang didengarnya sehari-hari. Bayi yang dibiasakan mendengar dua bahasa, akan mengembangkan kemampuan untuk menyerap kosakata dari dua bahasa yang didengarnya. Perbedaan emosi dipelajari bayi melalui suara. Intonasi tinggi, berteriak, menjerit, adalah bentuk-bentuk emosi. Bayi akan tahu apakah ibunya marah atau sedih melalui perbedaan suara yang dikeluarkan sang ibu.

Banyak hal yang dipelajari bayi melalui suara. Orangtua dapat menggunakan media suara untuk memperkaya input kepada bayi. Musik dan lagu berirama untuk mengenalkan kosakata. Menunjukkan burung yang sedang bersiul, menunjukkan kereta dan menirukan bunyinya, menunjukkan ekspresi sedih, marah, atau gembira dengan iringan suara termasuk teknik sederhana yang dapat digunakan.