
Pernahkah Anda dilarang makan kelapa saat masih menyusui bayi karena dipercaya akan membuat sang bayi terkena cacing kremi? Atau Anda disarankan untuk memutar music Mozart agar bayi tumbuh cerdas? Itulah antara lain mitos-mitos yang berkembang di masyarakat tentang proses perkembangan pada bayi.
Untuk itu, perlu bagi setiap orangtua untuk selalu melakukan cek ulang terhadap setiap informasi yang diterima. Di jaman modern ini, tidak ada istilah tidak sempat, karena akses informasi sudah tersedia luas. Internet, majalah, grup orangtua, dokter, dan sebagainya, adalah sumber-sumber informasi berharga.
Mitos-Mitos mengenai Perawatan Bayi:
- Mitos: Bayi akan cerdas jika diberi banyak mainan. Fakta: mainan tidak membuat anak jadi cerdas. Sebaliknya, membaca dan bercakap-cakap dengan anak lebih menunjukkan hasil positif. Mainan hanya sebagai media untuk membantu, bukan solusi.
- Mitos: Bayi akan cerdas jika mendengarkan musik klasik. Fakta: tidak ada riset yang membuktikan ini. Musik klasik hanya memberi efek menenangkan dan membantu untuk fokus, tapi tidak untuk membuat bayi jadi super cerdas.
- Mitos: Bayi yang terlambat bicara, kelak akan jadi anak bodoh. Fakta: Bayi laki-laki umumnya tidak secepat bayi perempuan dalam perkembangan kemampuan bicaranya. Terlambat bicara dapat terjadi pada anak yang menggunakan multibahasa, anak yang mengembangkan kemampuan motorik lebih dahulu, atau bisa pula karena gangguan pada pendengaran. Cari penyebabnya dan konsultasikan pada dokter.
- Mitos: Bayi sering histeris di malam hari karena diganggu makhluk halus. Fakta: Histeris bisa disebabkan karena bayi terlalu lelah, cemas, sakit, atau tidak nyaman. Tenangkan bayi dengan menimang, berjalan, dan membujuk. Dsb-dsb.
Jangan mudah termakan oleh mitos-mitos mengenai bagaimana cara perawatan pada bayi. Selalu lakukan cek ulang setiap kali Anda mendapatkan informasi yang meragukan. Pemahaman anda mengenai proses tumbuh kembang bayi adalah kunci utama untuk mengasuh dan membesarkan bayi dengan cara yang tepat.

