Tipe dan Penyebab Diare pada Anak Balita

Diare adalah salah satu penyakit yang dapat membuat anak balita harus dirawat di rumah sakit karena cairan dalam tubuh berkurang dan anak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Selama masa opname itu, biasanya dokter memberikan nutrisi melalui selang infus agar anak tetap mendapat gizi dan cairan yang berguna bagi kesembuhannya.

Diare dibagi menjadi dua tipe, yaitu diare akut dan diare kronis. Jika tipe diare akut berlangsung selama 2 minggu, sebaliknya tipe diare kronis dapat mencapai lebih dari 2 minggu.

Penyebab Umum Diare pada Anak Balita:

  • Jika tinja hanya berupa cairan tanpa adanya darah, maka diare tersebut bisa jadi karena adanya infeksi virus;
  • Sementara jika anak terkena demam, nafsu makan berkurang, perut kembung atau kram, adanya darah atau lendir dalam tinja yang disertai bau busuk, maka itu menunjukkan adanya infeksi bakteri atau parasital;
  • Anak mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu pencernaan pada usus seperti makan terlalu pedas atau terlalu asam;
  • Anak mengonsumsi makanan yang mengandung pemanis buatan dalam jumlah banyak seperti hexitols, manitol dan sorbitol;
  • Ada juga beberapa faktor yang dapat menyebabkan diare pada anak balita seperti: intoleransi laktosa sehingga setiap mengonsumsi susu, anak selalu mencret;
  • Mengonsumsi obat yang dapat menyebabkan diare seperti pencahar, obat untuk luka bakar jantung, antibiotik, produk yang mengandung magnesium dan alkohol. Bakteri yang sering menyebabkan diare seperti Clostridium difficile biasanya muncul setelah minum antibiotik.
  • Terkena bakteri Camphylobacter dan E. Coli yang membuat anak keracunan makanan.
  • Stres berat yang mempengaruhi pencernaan juga dapat menyebabkan diare. Sehingga setelah stres atau kecemasan berlalu, diare pada anak balita pun berhenti.

Namun biasanya anak-anak hanya terkena diare sekitar 2-3 hari saja. Konsultasikan dengan dokter jika diare berlangsung lebih dari 4 hari.