
Memang merupakan hal yang wajar apabila orangtua bersikap melindungi anaknya. Sikap protektif terhadap anak dimaksudkan sebagai perlindungan ataupun tindakan pencegahan terhadap hal-hal negatif atau merugikan yang mungkin saja terjadi pada anak. Namun demikian, sikap dan tindakan overprotektif yang dilakukan orang tua terhadap anak justru bisa menjadi bumerang bagi proses tumbuh kembang anak secara psikologis dan emosional anak kelak di kemudian hari. Apa saja jenis dan macam efek sikap overprotektif pada anak?
Jenis dan macam
Berikut ini beberapa jenis dan macam efek sikap overprotektif pada anak yang mungkin saja terjadi pada tumbuh-kembang anak sebagaimana diolah dari berbagai sumber, yaitu:
· Mandiri. Anak akan kehilangan kemandirian dalam melakukan segala kegiatan karena terlalu sering dilarang ataupun dibatasi aktifitasnya. Pembatasan aktifitas ini akan menyebabkan anak menjadi terlalu tergantung kepada orangtua, sehingga kurang dapat menyelesaikan tugas ataupun kewajibannya.
- Inisiatif. Kemampuan untuk berinisiatif mencari jalan keluar ketika anak mengalami permasalahan ataupun hambatan akan menjadi kurang optimal, padahal anak dituntut untuk dapat mengambil tindakan inisiatif kelak pada usia dewasa. Terhambatnya kemampuan berinisiatif pada anak ini pada akhirnya akan menghambat kemampuan kreatifitasnya juga, sehingga anak cenderung stagnan dalam bersikap dan mengambil tindakan.
- Ketrampilan. Anak akan kehilangan ketrampilan atau skill individu menyelesaikan suatu permasalahan ataupun tugas yang dihadapi baik secara fisik ataupun psikologis. Skill dan mental anak tidak terbentuk secara kuat karena anak cenderung memiliki keraguan dalam mengoptimalkan kemampuannya.
- Peragu. Sikap peragu atau tidak percaya diri terhadap bakat dan kemampuan yang dimiliki akan terus terbawa hingga anak memasuki usia dewasa, padahal pada usia dewasa diperlukan ketegasan ketika hendak mengambil suatu keputusan.
Demikianlah beberapa jenis dan macam efek sikap overprotektif pada anak yang diterapkan orangtua terhadapa anak. Tidak ada salahnya jika sesekali membiarkan anak memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan keinginannya tanpa pengawasan yang terlalu ketat dari orangtua, sehingga tidak menimbulkan gangguan kecerdasan emosional dan psikologis pada anak. Semoga bermanfaat.

