Balita Laki-Laki Belajar Dari Ayah

Usia balita merupakan usia yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama dalam pembentukan karakternya. Pada usia tersebut, penting untuk mencontohkan hal-hal yang baik, karena pada usia balita merupakan usia meniru bagi perkembangan seorang anak. Meniru dalam hal ini adalah mengamati dan melakukan apa yang mereka lihat dan dengarkan. Usia balita adalah usia belajar, dimana seorang individu baru mulai belajar melakukan kehidupan bersosial, belajar untuk melakukan interaksi dengan benda-benda di sekitarnya juga orang-orang di sekelilingnya.

Balita laki-laki secara fisik akan lebih didominasi oleh sifat-sifat dari ibunya. Secara alamiah, bayi laki-laki akan lebih dekat dengan sang ibu selama dalam perawatannya, namun menjelang pertumbuhan umur balita ketika dia mengetahui jenis kelaminnya maka dia akan lebih suka berdekatan dengan sang ayah. Pada umur balita, individu mulai belajar membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, sehingga pada akhirnya kebanyakan balita laki-laki belajar dari ayah.

Ayah Tempat Belajar

Figur seorang ayah di mata balita laki-laki adalah layaknya figur seorang pahlawan bagi dirinya dan sang ibu. Balita sudah mampu untuk mengamati apa yang terjadi pada kehidupan sekelilingnya dan merekamnya dalam memorinya.

Balita laki-laki akan tertarik dengan pribadi sang ayah dimulai dari umur 2 tahun. Pada usia tersebut, balita laki-laki sudah mampu membedakan mana ibu dan mana ayah dengan sangat baik berikut sifat-sifat kedua orang tuanya. Pada usia inilah kemampuan verbal sangat menonjol. Balita laki-laki akan lebih tertarik mendengarkan apa yang diucapkan sang ayah, meskipun tetap bermanja bersama sang ibu. Namun, frekuensi mendengarkan perkataan sang ayah lebih sering dibandingkan dengan sang ibu sehingga taraf balita belajar dari ayah lebih banyak.

Semakin bertambah usia balita, maka semakin terasah kemampuan mengamati dan menirunya. Satu tahun berlalu, pada usia 3 tahun, balita laki-laki mulai mengamati dan meniru gerakan ayah. Cara ayah berjalan, cara ayah duduk, berpakaian, sampai hal detail seperti bagaimana cara ayah memegang sendok. Pada usia ini juga balita laki-laki mampu menirukan ucapan sang ayah berikut dengan gaya bicara sang ayah meski dengan pengucapan kalimat yang masih tidak jelas.

Menginjak akhir masa balita, yaitu usia 4 tahun hingga 5 tahun, balita laki-laki mampu mengamati setiap tindakan sang ayah. Sisi positifnya adalah, balita laki-laki mampu bertindak sebagai pelindung bagi sang ibu seperti yang dilakukan sang ayah. Namun, negatifnya, jika sang ayah mempunyai sifat yang tidak baik, sering marah-marah apalagi hingga melakukan kekerasan fisik terhadap sang ibu, maka si balita laki-laki akan merekamnya di memorinya hingga menjadikan apa yang diketahuinya menjadi sebuah sifat dasar yang hingga dia dewasa nanti akan tetap melekat.

Meskipun secara genetis balita laki-laki memiliki sifat yang lebih mirip sang ibu dari pada sang ayah namun ternyata dalam perkembangannya balita laki-laki lebih banyak mengikuti sang ayah. Itulah yang disebut balita laki-laki belajar dari ayah. Jika ayahnya mengajarinya hal baik maka biasanya balita menjadi orang baik saat dewasa dan manakala ayahnya mengajari hal-hal buruk maka balita dapat berkelakuan buruk pada saat dewasa kelak.