Waspadai Jika Anak Konstipasi

Konstipasi atau sembelit dapat terjadi pada anak-anak. Umumnya disebabkan oleh pola makan yang salah. Terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis seperti permen atau makanan instan lainnya ditambah dengan rendahnya konsumsi makanan kaya serat seperti pada sayuran dan buah-buahan memicu munculnya konstipasi. Konstipasi pada anak biasanya ditandai dengan sakit perut, mual, sulit buang air besar, tinja berwarna seperti tanah liat, atau bahkan terdapat darah segar pada permukaan tinja. Secara psikologis, anak yang menderita konstipasi memiliki nafsu makan yang rendah dan mudah marah. Orang tua atau pun penjaga anak harus mewaspadai bila anak menderita konstipasi selama lebih dari dua minggu. Konstipasi kronis ini dapat membahayakan kesehatan anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Secara fisik, konstipasi kronis pada anak dapat menyebabkan terjadinya kerusakan syaraf yang pada giliran selanjutnya menyebabkan anak tidak dapat mengenali tanda-tanda keinginan untuk buang air besar, atau bahkan tidak menyadari keluarnya tinja. Anak yang menderita konstipasi kronis sering tidak bisa menahan untuk buang air besar sehingga tercecer di celananya dan menimbulkan bau tidak sedap. Hal ini menyebabkan anak tersebut dijauhi oleh teman sebayanya atau bahkan oleh orang dewasa pula. Akibatnya anak merasa malu, bersalah, dan kehilangan kepercayaan dirinya.

Selain itu, konstipasi kronis dapat memicu timbulnya ambeien atau wasir yang ditandai dengan rasa gatal dan tidak nyaman pada dinding anus, dinding anus menonjol keluar dan tidak dapat kembali ke tempatnya dengan sendirinya, bahkan dapat pula disertai dengan perdarahan. Rasa sakit dan tidak nyaman yang dialami anak saat menderita konstipasi menyebabkan anak cenderung enggan untuk buang air besar dengan maksud untuk menghindari munculnya rasa sakit tersebut. Kondisi demikian akan semakin memperparah wasir, sebagai efek lanjutan dari konstipasi kronis. Wasir yang parah, dimana dinding anus menonjol keluar dan tidak dapat kembali seperti sediakala atau bahkan mengalami perdarahan, dapat disembuhkan melalui operasi. Hal ini dapat menimbulkan efek traumatis pada anak.

Agar konstipasi tidak berlanjut menjadi konstipasi kronis, orang tua atau penjaga anak perlu memperhatikan tanda-tanda anak ingin buang air besar. Bila bahasa tubuh anak menunjukkan tanda-tanda seperti menyilangkan kaki-kakinya, memutar-mutar tubuhnya, atau ekspresi wajahnya terlihat seperti menahan sesuatu, maka ajak anak untuk segera buang air besar di kamar kecil. Konstipasi memang biasa terjadi pada anak-anak. Namun orang tua dan penjaga anak wajib waspada bila anak menderita konstipasi kronis. Dalam hal ini, sebaiknya konsultasikan permasalahan tersebut dengan dokter spesialis anak yang terpercaya.