
Toilet training untuk balita biasanya dimulai saat balita menginjak usia 2,5 tahun. Namun tidak semua balita dapat melakukannya pada usia yang sama, bergantung pada kesiapan fisik dan mentalnya. Secara fisik, otot-otot kandung kemih dan rektum balita telah mampu menahan urin atau tinja. Secara mental, balita harus sudah mampu mengenali tanda-tanda kebelet pipis atau buang air besar.
Tanda-tanda balita siap melakukan toilet training adalah memiliki pola buang air kecil setiap 2-3 jam, mampu mengatakan keinginannya jika kebelet, dan dapat memahami petunjuk sederhana. Anda juga bisa mengenali apabila balita kebelet melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, atau kata-kata, atau ketika ia berhenti melakukan aktivitasnya dan mencoba menarik perhatian Anda dengan menarik-narik popoknya atau menangis.
Toilet training untuk balita yang paling sederhana adalah dengan membiasakan pergi ke toilet sesuai dengan pola buang air kecil dan buang air besarnya. Catat dan perhatikan waktu kapan balita buang air kecil dan buang air besar. Setelah mengetahui polanya, maka beberapa menit sebelumnya ajak balita ke toilet untuk mengantisipasi kebutuhannya. Jika balita merasa tidak nyaman menggunakan toilet karena terlalu besar, Anda bisa menggunakan potty. Anda bisa memperkenalkan potty kepada balita dengan sebelumnya membiasakan balita memakai potty tanpa harus melepas popok terlebih dahulu.
Ketika balita buang air besar di popok, biarkan ia melihat Anda membuang kotorannya dari popok ke toilet dan menyiramnya. Ajarkan dan biarkan jika balita ingin menyiram sendiri kotorannya di toilet. Berikan pemahaman pada balita jika ia merasakan tanda-tanda kebelet, agar lekas menyampaikan bahwa ia ingin ke toilet. Berikan pujian saat balita sudah mampu menyampaikan tanda-tanda kebelet dan mampu menggunakan toilet secara benar, agar balita tahu bahwa yang dilakukannya sudah benar.
Saat balita sudah mampu menyampaikan bahwa ia ingin buang air, Anda bisa menghentikan pemakaian popok. Bersiaplah jika terjadi “kecelakaan”, namun jangan salahkan balita jika ini terjadi, berikan pengertian dengan lembut bahwa lain kali ia tak boleh mengulanginya. Toilet training untuk balita memang memerlukan kesabaran ekstra, namun jika dilakukan dengan telaten, lambat laun pasti berhasil.

