Tujuh Tanda Kehamilan Beresiko

Kehamilan tak selamanya berjalan dengan mulus, calon Ibu harus siap dengan kondisi apapun termasuk jika mengalami kehamilan yang beresiko tinggi. Kehamilan yang beresiko tinggi bisa membahayakan nyawa salah satu atau bahkan kedua nyawa sekaligus selama masa kehamilan atau saat melahirkan. Anda harus rajin memantau perkembangan kehamilan Anda dari waktu ke waktu, salah satunya dengan mengenali tanda-tanda kehamilan beresiko.

Tujuh Tanda Kehamilan Beresiko

  1. Calon Ibu memiliki penyakit berat

Penyakit berat yang diderita calon Ibu misalnya penyakit jantung, kanker atau kista. Pada kasus-kasus tertentu dimana perlu dilakukan pembedahan untuk mengangkat penyakit akan membuat persalinan dipercepat.

2. Placenta Previa

Plasenta Previa adalah kondisi dimana plasenta menutupi jalan lahir. Biasanya terjadi pada wanita yang mengalami gangguan struktur pada rahim seperti fibroid. Calon Ibu dengan plasenta previa akan mengalami pendarahan tiba-tiba tanpa rasa nyeri di trimester akhir. Pendarahan yang berlebihan akan membahayakan nyawa janin dan calon Ibu. Persalinan darurat harus diantisipasi.

3. Placenta Abrubtion

Merupakan plasenta yang bisa terlepas secara prematur. Ini terjadi pada 0,4 hingga 3,5 % dari kehamilan. Biasanya terjadi pada calon Ibu yang mengalami preeklamsia berat atau pengkonsumsi kokain.

4. Cairan Ketuban yang Terlalu Sedikit

Cairan ketuban yang terlalu sedikit akan membuat paru-paru janin berkembang tidak terbentuk sempurna, tertekan atau mengalami kelainan bentuk. Kombinasi dari keduanya disebut Sindrom Potter.

5. Ketidakcocokan RH

Rh merupakan molekul yang terjadi pada permukaan sel darah merah pada manusia. Ketidakcocokan Rh ini terjadi jika seorang Ibu memiliki Rh-negatif dan janin memiliki Rh-positif. Karena bertolak belakang, sel darah merah calon Ibu akan mengenali sel darah merah anak sebagai benda asing dan tubuh calon Ibu pun menghasilkan antibodi. Kasus ini tergolong rumit dan perlu penanganan khusus sejak kehamilan hingga melahirkan.

6. Preeklamsia Berat

Preeklamsia bisa terdeteksi sejak kehamilan berusia 20 minggu dan minggu pertama setelah melahirkan. Calon Ibu yang mengalami preeklamsia berat jika memungkinkan bisa melahirkan dengan cara normal dengan bantuan vakum.

7. Obesitas

Calon Ibu yang hamil dalam kondisi kelebihan berat badan akan beresiko mengalami pendarahan berat pasca melahirkan dan dua kali beresiko melahirkan bayi secara prematur.

Pemantauan kondisi kehamilan, kesehatan ibu dan janin harus dilakukan secara berkala sejak awal kehamilan. Dengan demikian antisipasi untuk hal-hal yang tidak diharapkan dari kehamilan beresiko dapat diminimalkan sedapat mungkin sehingga ibu dan janin selamat dan persalinan dapat berjalan lancar.