
Pre-eklampsia adalah meningkatnya tekanan darah dan kandungan protein dalam urin pada ibu hamil. Sebagian ibu hamil adalah penderita pre-eklampsia. Pre-eklampsia terjadi pada awal-awal trimester ketiga kehamilan atau bahkan sudah bisa dideteksi sebelum memasuki trimester ketiga. Tanda fisik yang terlihat adalah terjadinya pembengkakan pada tangan dan kaki.
Pre-eklampsia bisa dicegah dengan mengetahui secara dini kondisi kesehatan ibu hamil melalui pemeriksaan rutin setiap bulannya, mengenali resiko-resiko yang terjadi selama kehamilan dan penyakit yang diderita pada ibu hamil sebelumnya. Pemantauan apakah terjadi pre-eklampsia atau tidak bisa mulai dilakukan saat kehamilan memasuki usia 14 hingga 28 minggu.
Penyebab dan Efek Pre-eklampsia
Sampai saat ini penyebab terjadinya pre-eklampsia belum diketahui dengan pasti karena banyak faktor yang cukup kompleks sehingga pre-eklampsia muncul. Bisa jadi karena faktor imunologi, faktor keturunan, faktor makanan dan infeksi. Penderita pre-eklampsia rata-rata di bawah usia 20 tahun atau di atas 35 tahun.
Pre-eklampsia pada ibu hamil termasuk yang membahayakan ibu dan janin karena merupakan salah satu faktor mematikan saat persalinan. Pada janin, pre-eklampsia bisa menyebabkan berkurangnya pasokan darah ke janin yang dialirkan melalui plasenta, janin berukuran lebih kecil dan kelahiran prematur. Sedangkan pada ibu hamil, pre-eklampsia bisa menyebabkan pendarahan hebat yang bisa mengancam nyawa ibu dan janin. Pre-eklampsia berat bisa mempengaruhi fungsi ginjal dan hati, bisa menurunkan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan stroke.
Tindakan Medis Menjelang dan Saat Persalinan
Lalu apakah penderita pre-eklampsia bisa melahirkan secara normal? Tergantung kondisi ibu hamil itu sendiri karena penderita pre-eklampsia
mengalami tekanan darah yang cukup tinggi sehingga bisa menyebabkan pembuluh darah pecah saat proses persalinan nanti. Dokter biasanya akan melakukan pemantauan terhadap tekanan darah ibu sebelum dilakukan persalinan. Biasanya, satu minggu sebelum persalinan, ibu sudah dirawat di rumah sakit bersalin.
Dokter akan mencoba untuk menurunkan tekanan darah sampai kondisi normal, baru dilakukan persalinan dengan cara diinduksi. Pemantauan dokter kandungan tidak hanya sampai di sini, kondisi ibu akan terus dipantau hingga proses persalinan selesai. Jika tekanan darah kembali naik pada detik-detik persalinan, dokter tidak akan memaksa ibu untuk mengejan karena persalinan pervaginam akan dibantu dengan vakum atau forcep.
Tekanan darah tinggi penderita pre-eklampsia selain disebabkan oleh faktor-faktor di atas, juga dipengaruhi oleh kecemasan ibu hamil. Untuk itu dukungan suami dan keluarga untuk memberikan ketenangan batin sangat membantu.

