Resiko Metode Persalinan Dalam Air (Water Birth)

Metode persalinan dalam air (water birthing) adalah nama umum yang diberikan untuk proses melahirkan di dalam air. Kelahiran bayi itu sendiri tidak harus terjadi di dalam air untuk bisa disebut sebagai persalinan di dalam air. Air dapat digunakan sebagai alat proses persalinan dan metode tersebut masih bisa dianggap sebagai metode persalinan dalam air.

Perancis adalah Negara pertama yang tercatat mempraktekkan metode persalinan dalam air pada tahun 1803 dan diikuti oleh Jerman pada tahun 1805. Sedangkan di Amerika Serikat, sulit untuk mengidentifikasi kapan metode persalinan dalam air ini pertama kali dimulai karena metode persalinan tersebut dilakukan pertama kali oleh pasangan suami istri yang melahirkan di rumah.

Mengapa Persalinan Dalam Air?

Studi yang diterbitkan di British Medical Journal membuktikan keuntungan-keuntungan prosedur metode persalinan dalam air. Hampir 66% wanita yang melahirkan secara tradisional memerlukan tindakan anestesi, sedangkan hanya 47% wanita dalam kasus persalinan dalam air yang memerlukan tindakan anestesi.

Salah satu argumen utama yang mendukung metode persalinan dalam air adalah metode ini dapat meminimalisir dampak trauma pada bayi. Air akan melindungi bayi dari perubahan suhu dan lingkungan yang mendadak atau tiba-tiba setelah kelahiran yaitu dari temperatur dan lingkungan rahim ibu ke temperatur dan lingkungan udara bebas.

Manfaat bagi bayi:

  • Air hangat diperkirakan menyerupai suasana di dalam rahim sehingga mengurangi stres bayi yang mengalami transisi dari rahim ke dunia luar.
  • Interaksi antara ibu dan bayi meningkat karena ibu lebih mudah dapat bergerak dan melakukan kontak mata dengan bayinya.
  • Napas pertama bayi hangat dan lembab.

Manfaat bagi ibu:

  • Menurunkan tekanan darah.
  • Mengurangi kecemasan dan stres.
  • Relaksasi.

Apa Resiko Persalinan Dalam Air?

Belum banyak penelitian berbobot yang dilakukan untuk membahas metode persalinan dalam air, namun berikut ringkasan potensi resiko metode persalinan dalam air yang teridentifikasi dari beberapa penelitian sejauh ini:

  1. Dalam kasus yang jarang, bayi mungkin menghirup air ketika masih ada di bak persalinan. Bernapas dalam air dapat menyebabkan kadar natrium dalam darah terlalu rendah dan kondisi ini disebut hiponatremia.
  2. Terdapat kasus langka di mana tali pusat tersentak selama persalinan dalam air sehingga bayi membutuhkan transfusi darah karena pendarahan yang tidak terkontrol.
  3. Dimungkinkan bayi mengalami infeksi sesaat setelah dilahirkan karena kontak langsung dengan air yang terkontaminasi selama persalinan dalam air.
  4. Wanita yang memiliki panggul sempit akan mengalami kesulitan melahirkan di air.
  5. Persalinan dalam air dapat dihubungkan dengan hidro-emboli yaitu air masuk ke aliran darah bayi.

Jika mempertimbangkan melakukan metode persalinan dalam air, ada baiknya periksa dengan hati-hati pilihan metode persalinan yang ditawarkan, mana yang sesuai tentunya dengan meminta rekomendasi dokter, karena banyak rumah sakit yang sudah menawarkan metode persalinan dalam air di samping metode –metode persalinan tradisional lainnya.