Perkembangan Pola Pikir Anak Usia 5 – 12 Tahun

Mengasah pola pikir anak sejak dini sangatlah penting. Pola pikir anak dapat diukur secara kognitif dan juga melaui kecerdasan logika atau penalaran tentang suatu proses sebab-akibat dan konsep prioritas. Pola pikir anak bisa dibentuk dengan melakukan latihan secara terus menerus dan jangka panjang. Mengasah pola pikir anak, bisa difokuskan pada pengembangan pola pikir anak usia 5-12 tahun karena pada usia inilah seorang anak memiliki masa-masa kecerdasan yang luar biasa.

Membentuk pola pikir anak bisa dilakukan dengan cara stimulasi. Misalnya dengan bercerita, memberikan bacaan yang membuat anak bisa Perkembangan Pola Pikir Anak Usia 5 - 12 tahunmengambil suatu sikap terhadap sebuah persoalan, bisa memacu anak untuk mengembangkan kecerdasan pola pikirnya. Seperti contoh, cerita dilema tentang skala prioritas membeli alat tulis atau mainan kesukaannya, bisa digunakan sebagai sarana melatih anak menentukan skala prioritas.

Perkembangan pola pikir anak usia 5-12 tahun ini juga bisa diwujudkan dengan melatih jiwa tanggung jawab anak. Seperti contoh, ketika waktu belajar tiba dan anak masih asyik bermain, orang tua bisa memberikan pejelasan tentang keutamaan tanggungjawab seorang anak. Apabila anak tidak belajar, orang tua bisa menjelaskan tentang resiko tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik atau kesulitan mengejakan tugas sekolah jika belajar tidak dilakukan.

Konsep benar dan salah juga bisa dijadikan media untuk membentuk pola pikir anak. Konsep ini bisa diterapkan melalui kejadian sehari-hari seperti berbohong itu salah, jika berbuat kesalahan harus minta maaf, tidak boleh melawan kepada orang tua, dan konsep-konsep benar-salah yang lainnya. Namun dalam memberikan pemahaman kepada anak ini orang tua harus hati-hati dan pelan-pelan, jangan sampai anak salah menerima konsep yang diberikan. Selain itu, contoh tindakan atau sikap orang tua serta lingkungan juga sangat berpengaruh.

Dalam memupuk perkembangan pola piker anak usia 5-12 tahun harus dilakukan dengan kesabaran dan tidak boleh dengan cara memaksa atau memerintah. Hal ini dikarenakan, cara yang lembut lebih melekat kepada anak dan akan berbekas positif dibandingkan cara yang kasar atau memaksa.