Pengaruh Puasa Ramadhan Terhadap Perkembangan Emosi Anak

Bagaimana pengaruh puasa Ramadhan terhadap perkembangan emosi anak? Puasa Ramadhan tentunya merupakan kewajiban bagi tiap muslim. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak yang belum melewati masa akil baliq tentunya tidak wajib berpuasa selama bulan Ramadhan. Namun, banyak anak-anak yang sudah berpuasa penuh layaknya orang dewasa bahkan sebelum akil baliq. Para orangtua yang menyuruh anaknya yang belum akil baliq untuk berpuasa biasanya beralasan agar anaknya terbiasa.

Namun benarkah hal demikian ini dilakukan? Bagaimana menurut agama Islam? Bagaimana pengaruhnya terhadap kondisi kesehatan si anak sendiri?
Bila ditinjau dari perspektif agama Islam sendiri, tidak ada salahnya membiasakan anak yang masih kecil untuk berpuasa. Berpuasa juga dapat melatih anak untuk mendekatkan dirinya pada Tuhan karena lewat berpuasa, anak diharapkan dapat memahami bahwa puasa merupakan bagian dari ibadah kepada Tuhan. Anak dapat memahami bahwa berpuasa bukanlah dikarenakan untuk memenuhi keinginan orang tua, atau sekedar ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan orang tua. Dengan mengenalkan hal ini sejak kecil, maka anak akan terbiasa dan paham akan kewajiban yang harus ia penuhi kepada Tuhan di saat ia akil baliq nantinya.

Selain itu, secara medis, berpuasa tidak akan membahayakan kondisi kesehatan si anak sendiri. Namun tetap harus diperhatikan kemampuan serta kondisi fisik si anak. Usahakan untuk tidak memberatkan anak dengan tuntutan untuk harus berpuasa penuh bila itu memang tidak sesuai dengan kemampuannya. Orang tua tetap harus menyesuaikan dengan kemampuan si anak sendiri karena setelah anak terbiasa tentunya peningkatan kuantitas puasa akan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Lalu bagaimana dengan perkembangan emosi si anak sendiri? Adakah pengaruh puasa Ramadhan terhadap perkembangan emosi anak itu sendiri?
Nah, sebagaimana diketahui bahwa berpuasa sendiri pada dasarnya tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan emosi. Oleh karena itu, dengan mengajak anak berpuasa, orang tua dapat melatih dan mendidik anak untuk belajar mengendalikan diri dan emosinya.

Pengaruh puasa Ramadhan terhadap perkembangan emosi anak dapat dilihat sebagai berikut:

1. Anak Belajar Sabar

Anak kecil cenderung untuk memilki banyak keinginan. Keinginan  itupun dapat dengan mudahnya berganti-ganti jika si anak mulai bosan. Dengan berpuasa, anak dilatih bahwa tidak seluruh keinginan dapat dipenuhi saat itu juga. Misalnya saja, di saat berpuasa, anak ingin menyantap hidangan kesukaannya atau meminum minuman segar di siang hari. Namun, karena sedang berpuasa, anak mau tidak mau harus bersabar hingga waktunya berbuka. Dengan demikian anak berlatih untuk bersabar serta tidak harus selalu menuruti egonya.

 2. Anak Menjadi Lebih Peduli

Pada hakikatnya, berpuasa juga mengajarkan kita untuk lebih peduli terhadap sesama yang tidak selalu dapat makan tiga kali sehari seperti layaknya kita. Dengan diberikannya pemahaman semacam itu kepada anak, anak akan menjadi lebih peduli terhadap sesamanya yang kekurangan dan dapat melatih semangat berbagi yang dimiliki anak. Dengan demikian, emosi dan kepedulian sosial anak dapat terbentuk dengan baik.

Melihat begitu banyaknya manfaat puasa bagi anak, maka tidak ada salahnya bagi para orang tua untuk melatih anaknya agar berpuasa sejak dini. Akan lebih baik lagi bila orang tua dapat memberikan motivasi pada anak serta menjadi teladan bagi anak dalam hal berpuasa. Demikian penjelasan mengenai pengaruh puasa Ramadhan terhadap perkembangan emosi anak.