Pengaruh Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Emosi Anak

Seperti apa Pengaruh Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Emosi Anak?. Anak adalah harta titipan Tuhan, sebagai orangtua wajib untuk merawat dan mendidik anak sehingga anak menjadi orang yang berhasil dan berahklak baik. Namun bagaimana bila secara tidak diduga orangtua bercerai. Bagaimana Pengaruh Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Emosi Anak? Apakah anak akan berubah baik perkembangan pola pikir, dan emosinya?

Pengaruh Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Emosi Anak

Perceraian secara umum dipahami sebagai tanda berakhirnya sebuah pernikahan. Perceraian terjadi karena berbagai macam sebab. Semua orang yang menikah, tentu tidak ingin terjadi perceraian di kemudian hari.  Perceraian tidak hanya berpengaruh terhadap pasangan suami istri namun perceraian sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi anak. Bila perceraian harus terjadi, orangtua harus memikirkan berbagai dampak yang dapat mempengaruhi kondisi anak, baik fisik maupun psikis anak. Dalam hal ini anak adalah korban dari perceraian orangtua. Tentu saja ada pengaruh perceraian orangtua terhadap perkembangan emosi anak  meskipun mungkin tidak terlihat secara kasat mata, namun pengaruh itu tetap ada bagi anak. Anak akan merasa kehilangan sosok orangtua. Tekanan yang dihadapi anak dengan adanya perceraian orangtua hampir sama dengan tekanan yang dialami oleh anak-anak usia yang lebih tua. Anak cenderung mengalami gangguan perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Gangguan tersebut berupa kemunduran perkembangannya.

Pengaruh perceraian orangtua terhadap perkembangan emosi anak dan cara penanganannya

Anak yang menjadi korban perceraian orangtua, harus mendapat perhatian dengan baik. Anak yang orangtuanya bercerai membutuhkan perhatian yang tepat untuk mengatasi trauma yang terjadi pasca perceraian.

Beberapa hal yang harus tetap dilakukan oleh orangtua untuk anak adalah:

  1. Orangtua tetap harus memberikan perhatian dan dukungan agar anak tetap memiliki rasa aman dan kepercayaan diri yang utuh. Hal itu untuk mencegah anak depresi, frustasi, cemas, stress, kesepian, instabilitas emosi dan gangguan psikis lainnya. Memberikan dukungan dan perhatian memang tidak mudah untuk dilakukan paska perceraian.
  2. Orangtua berkewajiban meyakinkan hati anak dan menentramkannya dan mengatakan bahwa perceraian itu bukan disebabkan oleh kesalahan anak.
  3. Orangtua harus membantu anak untuk menyesuaikan diri menghadapi perceraian orangtua. Dampak psikologis dari sebuah perceraian terhadap anak tentu saja ada namun dampak tersebut harus dibuat seminimal mungkin agar saat dewasa nanti anak tidak menjadi trauma, misalnya terhadap sebuah pernikahan atau lawan jenisnya.
  4. Orangtua tetap melakukan kewajiban sehari-hari yang biasa dilakukan sebelum perceraian, misalnya mengantar anak sekolah, menelpon, mengajak berjalan-jalan, atau liburan. Pengasuhan anak paska perceraian tetap tanggung jawab kedua orangtua.
  5. Hindari mengatakan hal yang buruk tentang mantan suami atau mantan istri kepada anak. Hal ini berpengaruh negative bagi anak karena dapat menimbulkan kebencian anak pada kedua orangtuanya. Jangan sampai terjadi pengaruh perceraian orangtua terhadap perkembangan emosi anak.
  6. Anak tetap dapat bertemu dengan kedua orangtuanya dengan bebas. Bagi pasangan suami istri yang bercerai, ada istilah mantan suami atau mantan istri namun bagi anak tidak ada istilah mantan anak.

Berbagai hal harus dilakukan oleh kedua orangtua paska perceraian agar anak tidak merasa ditinggalkan atau diabaikan. Bila berbagai upaya telah dilakukan namun anak ternyata masih mengalami trauma perceraian, ada baiknya orangtua datang mengunjungi seorang psikolog. Hal ini untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk yang mungkin dapat terjadi dari pengaruh perceraian orangtua terhadap perkembangan emosi anak.