Mencerdaskan Perkembangan Emosi Anak Autis

Bagaimana mencerdaskan perkembangan emosi anak autis? Anak adalah anugerah yang Tuhan titipkan pada orangtua. Tidak setiap orangtua beruntung mendapatkan anak. Ada banyak pasangan suami istri yang telah lama menikah, belum dikaruniai anak. Meskipun mereka telah berusaha dengan berbagai cara. Sedangkan, bagaimana bila ada pasangan suami istri yang dikaruniai anak, namun anak tersebut didiagnosa dokter menderita autis? Apakah yang harus dilakukan oleh orangtua ? Dan, bagaimana menangani anak yang autis? Hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk mencerdaskan perkembangan emosi anak autis? Berbagai pertanyaan tentu akan muncul dalam pikiran orangtua yang memiliki anak autis.

Bagaimana Cara Mencerdaskan Perkembangan Emosi Anak Autis?

Sejak beberapa tahun belakangan ini, istilah autis makin sering diberitakan di berbagai media baik media cetak maupun di layar televisi. Meskipun begitu masih banyak orangtua yang belum mengerti tentang istilah autis pada anak. Istilah autis atau autistik berasal dari kata auto yaitu terikat sendiri. Autism (bahasa Inggris) atau autistik dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah terganggu jika berhubungan dengan orang lain. Menurut Handojo, 2004, seorang autis seakan-akan hidup dalam dunia sendiri. Pertanyaan yang sering diajukan oleh orangtua yang memiliki anak yang didiagnosa menderita autis antara lain bagaimana cara mencerdaskan perkembangan emosi anak autis? Biasanya, emosi yang terjadi pada seorang yang didiagnosa autis mudah berubah-ubah. Hal ini karena ada gangguan pada sistem limbik di dalam susunan syarafnya, sehingga hal tersebut mengakibatkan kesulitan mengendalikan emosi. Menurut Azwandi, 2005, anak menjadi hiperkinetis, menolak melakukan sesuatu dengan alasan yang tidak jelas, menjadi agresif, suka membenturkan kepala, mencakar, menggigit, atau menjambak rambutny sendiri adalah beberapa contoh dari reaksi emosional dalam bentuk perilaku sebagai akibat dari gangguan sistem limbik tersebut.

Cara mencerdaskan perkembangan emosi anak autis yaitu dengan memberikan terapi terpadu yang sesuai dengan kondisi anak yang bersangkutan. Gangguan metabolisme juga memperparah kondisi anak autis. Menurut sebuah jurnal ada beberapa terapi yang dapat dilakukan antara lain: Applied Behavioral Analysis (ABA), terapi Sosial, terapi Okupasi, terapi Fisik, terapi Wicara, terapi Perilaku, terapi Bermain, terapi Perkembangan, terapi Visual, terapi Biomedik. Terapi dapat dilakukan secara terpadu, namun jenis terapi disesuaikan dengan diagnosa autis yang ada. Terapi diatas, 9 diantaranya adalah terapi yang memfokuskan pada interaksi.

Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Untuk Mencerdaskan Perkembangan Emosi Anak Autis

Anak yang didiagnosa autis dan berkebutuhan khusus membutuhkan perhatian ekstra. Ada beberapa hal yang perlu diketahui untuk mencerdaskan perkembangan emosi anak autis, yaitu:

  1. Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan proses perkembangan, sehingga terapi yang dilakukan tidak dapat instant, namun membutuhkan waktu yang lama.
  2. Bagi orangtua yang memiliki anak autis harus menyadari bahwa anak tersebut memiliki keterbatasan (limitasi), namun memiliki kemampuan (aset).
  3. Orangtua sebaiknya selalu melakukan komunikasi dan interaksi dengan anak. Selain itu, bagi orangtua, guru, atau orang yang berinteraksi dengan anak autis dibutuhkan ketelatenan, dan kesabaran dalam menghadapinya.
  4. Diet rendah gluten juga membantu penyembuhan anak autis.
  5. Memelihara binatang seperti anjing atau interaksi dengan lumba-lumba dapat membantu perkembangan dan kemampuan anak autis. Bersentuhan secara fisik dengan binatang tersebut dapat mempengaruhi hormon dan biokimiawi pada otak anak dan mencerdaskan perkembangan emosi anak autis.