Mempelajari Pengaruh Kekerasan Terhadap Anak Usia 5-12 Tahun

Saat ini, pengaruh kekerasan terhadap anak usia 5-12 tahun menjadi hal utama ketika dibicarakan, baik oleh media ataupun orang awam. Fakta terjadinya kekerasan terhadap anak dapat terjadi tiap 2 menit. Adapun data kekerasan terhadap anak tahun 2009, mulai dari Januari hingga Agustus 2009 tercatat 1.891 kasus dan 891 kasus di antaranya terjadi di sekolah.

Berikut ini adalah pengaruh kekerasan terhadap anak usia 5-12 tahun, diantaranya:

  • Adanya pengabaian kebutuhan anak dari orang tuanya. Misalnya yang sering terjadi adalah kebutuhan emosi seperti cinta maupun kasih sayang.
  • Adanya kekerasan fisik atau perlakuan kasar terhadap anak misalnya mencubit, menendang, memukul atau mengguncang.
  • Adanya kekerasan seksual, misalnya menyentuh bagian tubuh anak, anak disuruh memegang alat kelamin hingga pemaksaan hubungan seksual.
  • Adanya kekerasan emosi. Misalnya ancaman terhadap anak, menumbuhkan rasa bersalah, menakut-nakuti, memaksa dan sebagainya.

Contoh Tindakan Kekerasan Terhadap Anak dan Penyelesaiannya

Pengaruh kekerasan terhadap anak usia 5-12 tahun dapat memunculkan rasa sakit secara fisik serta psikis. Akibatnya, rasa percaya diri dan harga dirinya akan terpuruk. Hal tersebut dapat menjadi faktor penghambat dari potensi kemampuan anak dalam meningkatkan keberanian serta minat mereka dalam mencoba atau bereksplorasi dengan sesuatu yang baru.

Kondisi psikologi anak usia balita dan setelah balita, tentunya memiliki kondisi psikologi yang berbeda. Rasa keingintahuan serta bereksplorasi terhadap sesuatu yang dilihatnya mulai berkembang pada saat anak menginjak usia anak 3-4 tahun. Dalam hal ini, orang tua tidak boleh menunjukkan rasa tidak suka jika anak melakukan hal tersebut. Sebaiknya orang tua belajar mengenal psikologi anak sesuai usia anak.

Berikut contoh masing-masing :

  • ¬†Anak menumpahkan susunya, orang tua jangan berteriak atau langsung memukul anak. Pada saat seperti inilah, orang tua mengajarkan untuk membersihkan tumpahan susu.
  • Jika tangan anak tidak bisa diam karena rasa keingintahuan yang besar dan senang bereksplorasi, maka silahkan memberikan pengertian agar anak mengerti. Misalnya anak memegang benda terbuat dari kaca, maka pesan Anda adalah mengarah pada sikap hati-hati anak. Jangan terbiasa untuk memarahi anak saat dia sedang beraktivitas, tetapi lebih baik arahkan dia untuk beraktivitas yang lain.

Seandainya tindakan tersebut pernah Anda lakukan, maka sebagai orang tua janganlah Anda ulangi lagi hal seperti itu. Anak memerlukan kasih dan sayang dari orang tuanya. Anak akan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tua di dunia maupun ketika bertemu Tuhan nantinya. Bagi para orang tua yang mencintai buah hatinya pasti sangat perhatian dengan perkembangan mental anaknya, terutama memasuki masa krusial dalam rentang umur 5-12 tahun, dimana anak Anda mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Terkadang orang tua yang belum berpengalaman dalam melewati fase ini bingung dengan perubahan yang terjadi pada anak, dan pendekatan apa yang harus dilakukan agar anak bisa memiliki perkembangan emosi yang baik. Banyak para orang tua berfikir bahwa tidak perlu mengenal perkembangan emosi anak 5-12 tahun, karena merasa sudah pernah melaluinya saat dia menjadi anak-anak dahulu, tetapi sekarang masanya sudah berbeda, anak-anak jaman dahulu dididik untuk jadi penurut, karena aktivitasnya pun terbatas di sekitar rumah, bandingkan dengan anak jaman sekarang yang banyak aktivitasnya, dan juga pergaulannya yang luas, apalagi dengan paparan teknologi informasi yang mulai menjangkau anak-anak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengenal perkembangan emosi anak 5-12 tahun.