Fakta Penting Seputar Kontraksi Saat Hamil

Kontraksi saat hamil kerap kali dimaknai sebagai pertanda akan melahirkan, padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Ada banyak jenis kontraksi yang harus anda ketahui agar anda tidak salah mengerti dengan pendapat yang terlanjur salah kaprah. Pada dasarnya, kontraksi terjadi karena adanya gerakan si jabang bayi di dalam perut. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh adanya gerakan yang dilakukan atau terjadi secara tiba-tiba, misalnya terjatuh. Perlu diingat bahwa saat hamil dinding rahim menjadi lebih peka terhadap rangsang.

Macam-Macam Kontraksi

Pada dasarnya, ada beberapa jenis kontraksi yang bisa dan mungkin terjadi selama masa kehamilan, yaitu kontraksi dini, kontraksi karena berhubungan intim, kontraksi palsu dan kontraksi jelang melahirkan. Sesuai dengan namanya, kontraksi dini terjadi pada awal masa kehamilan atau trimester pertama. Ini terjadi akibat kondisi tubuh yang masih harus menyesuaikan dengan berbagai perubahan yang terjadi setelah positif dinyatakan hamil. Kontraksi ini tidak menimbulkan keguguran sepanjang tidak diikuti oleh timbulnya/keluarnya bercak darah. Kontraksi berikutnya adalah gerakan pada rahim yang disebabkan oleh hubungan intim yang terjadi pada masa-masa “rawan” dalam kehamilan, yakni trimester pertama dan terakhir. Itulah mengapa anda sangat tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan intim dikarenakan berbagai resiko yang mungkin timbul setelahnya, seperti persalinan premature, pendarahan vagina, keguguran dan sebagainya. Jika anda dan suami tetap ingin melakukannya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik sesuai kondisi kandungan anda. Umumnya, dokter akan menyarankan dua solusi alternatif yaitu senggama terputus atau penggunaan kondom. Kontraksi saat hamil juga mungkin terjadi ketika usia kandungan memasuki minggu ke 32 hingga 34. Kondisi ini umumnya disebut kontraksi palsu jika terjadi setiap 30 menit sekali dan berlangsung sekitar 20 detik hingga 2 menit per kontraksi. Ibu hamil akan merasakan nyeri yang mirip dengan kram haid. Kendati demikian, kontraksi palsu juga bisa terjadi saat kandungan memasuki minggu ke 37 hingga 40, tergantung kondisi masing-masing ibu hamil. Kontraksi sebenarnya tentu saja adalah kontraksi saat persalinan dan yang menyebabkan membukanya jalan rahim. Ciri-cirinya relative mudah dikenali, yaitu teratur dengan durasi rasa nyeri yang semakin panjang. Dalam 10 menit, ibu hamil mungkin saja mengalami 3 kali kontraksi dengan durasi masing-masing sekitar 20 hingga 40 detik. Durasi akan semakin lama jika pembukaan semakin besar dan frekuensinya bisa meningkat hingga 5 kali dalam 10 menit. Jika sudah seperti ini, maka lender bercampur darah akan keluar dan diikuti dengan pecahnya air ketuban.

Harus Bagaimana?

Pertanyaan ini pasti langsung terlintas di pikiran anda saat mengalami kontraksi. Hal pertama yang harus diingat adalah jangan panik. Usahakan untuk tenang dan mengatur nafas sebaik mungkin. Jika usia kandungan masih muda, tarik nafas dalam-dalam lalu buang perlahan-lahan. Bila frekuensi kontraksi lebih sering daripada yang tercantum di atas, ada baiknya anda memastikan kondisi dengan memeriksakan diri ke dokter sesegera mungkin. Bila kontraksi ini terjadi karena anda akan segera melahirkan, maka dokter biasanya akan memberikan tambahan oksigen dan membantu mendorong bayi keluar. Kini, anda sudah memahami fakta penting seputar kontraksi saat hamil.