Cara Mengatasi Hamil Palsu

Hamil palsu atau pseudocyesis adalah gangguan psikologi yang menyebabkan seorang wanita menampakkan tanda-tanda kehamilan seperti terhentinya menstruasi, mual, kenaikan massa tubuh, membesarnya payudara dan perut yang kian membesar. Pada beberapa kasus hamil palsu juga menunjukkan hasil tes urine positif. Perbedaannya adalah pada kehamilan palsu tidak ditemukan adanya detak jantung bayi, tidak tampaknya janin lewat pemeriksaan USG dan tidak terjadi kelahiran.

Hamil palsu dipicu oleh adanya gangguan psikologis dari wanita yang mengalaminya, sehingga cara mengatasi hamil palsu juga dilakukan seperti mengatasi pasien gangguan psikologi yaitu dengan pendekatan-pendekatan psikologi. Faktor psikis yang dialami merangsang kelenjar pituitary terpengaruh dan menyebabkan kelenjar endokrin gagal mengendalikan hormon yang menyebabkan kondisi seperti hamil.

Hamil palsu sudah terjadi sejak 300 tahun sebelum Masehi saat ahli pengobatan Yunani kuno Hippocrates didatangi oleh 12 orang wanita yang merasa mengalami kehamilan. Kasus hamil palsu ini pernah dialami oleh Mary Tudor seorang Ratu Perancis pada awal tahun 1500.

Kemunculannya juga dipengaruhi oleh faktor budaya seperti yang dialami oleh beberapa orang wanita di Afrika. Di negara yang mayoritas berkulit gelap itu, anak merupakan harta yang berharga dan penerus generasi, sehingga keinginan memiliki keturunan begitu tinggi. Keinginan yang tinggi menyebabkan sebagian wanita mengalami khayalan dan imajinasi yang akhirnya mendorong terjadinya hamil palsu.

Mengingat dampaknya yang besar terhadap psikis wanita yang mengalaminya, maka sebisa mungkin kita mengetahui cara mengatasi hamil palsu ini, diantaranya:

  1. Segera lakukan pemeriksaan urine saat kita mengalami terlambat menstruasi, atau paling tidak pemeriksaan sederhana menggunakan testpack. Sehingga sejak awal kita dapat mengetahui positif tidaknya bukan berdasarkan dugaan semata.
  2. Bertanyalah pada orang yang berkompeten bila anda membutuhkan informasi tentang kehamilan palsu ini agar informasi yang didapat tidak salah arah. Contohnya adalah dokter atau bidan.
  3. Kendalikan emosi. Mengetahui bahwa anak yang kita harapkan sesungguhnya tidak ada tentulah bukan hal yang ringan. Bukan mustahil kondisi ini dapat menimbulkan gangguan psikis yang lebih berat. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, jagalah emosi, tetap sabar dan tawakal dalam menerima ujian. Peran keluarga sangat penting dalam memberi dukungan dan kekuatan.
  4. Lakukan konseling pada psikolog agar beban psikis segera menjadi ringan dan tertangani.
  5. Jangan terlalu menghiraukan pertanyaan kapan merencanakan kehamilan dan sejenisnya, agar perasaan ingin hamil tidak menjadi gangguan emosi.

Semoga informasi yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi anda.