Bahaya Keguguran

Keguguran adalah hal yang dikhawatirkan oleh setiap wanita yang mendambakan anak. Umumnya, keguguran terjadi pada usia kehamilan di bawah 12 minggu. Hampir separuh dari kasus keguguran terjadi sebelum sang ibu menyadari bahwa dia hamil, dan hanya terasa seperti menstruasi biasa. Bahkan tidak jarang keguguran terjadi tanpa disertai rasa nyeri atau kram.

Tanda-tanda keguguran yang umum terjadi adalah: pendarahan, nyeri pada abdomen atau punggung bagian bawah, dan kram. Jika pendarahan berlangsung hebat, sang ibu dapat mengalami kekurangan darah, yang ditunjukkan dengan gejala pusing, ingin muntah, demam, atau berkeringat.

Resiko mengalami keguguran meningkat seiring dengan pertambahan usia, kegemukan, kebiasaan hidup yang tidak sehat, penyakit atau virus, pemakaian obat-obatan, atau riwayat genetik. Mereka yang berasal dari keluarga yang pernah mengalami keguguran, kemungkinan akan mengalami periode keguguran pula dalam hidupnya.

Bahaya Keguguran

Secara fisik, pendarahan akibat keguguran akan berhenti dalam waktu sekitar dua minggu. Kesehatan sang ibu akan cepat pulih jika disertai dengan asupan makanan sehat, istirahat dan relaksasi, vitamin, serta olahraga secukupnya. Bahkan, sang ibu dapat segera hamil lagi, meskipun belum lama mengalami keguguran.

Namun hal yang sering sulit diatasi adalah dampak psikologisnya. Keguguran acapkali membuat sang ibu merasa sedih, tidak berdaya, dan merasa dirinya tidak cukup mampu mengemban tugas sebagai wanita normal.

Dampak itu akan makin parah jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Pandangan negatif terhadap ibu yang mengalami keguguran serta tekanan untuk segera memiliki anak, dapat memperlambat proses pemulihan dirinya.

Suami pun tidak jarang terpengaruh oleh kesedihan akibat kehilangan tersebut. Kesedihan yang dialami bisa lebih parah dibandingkan istri, karena pria jarang dapat mengungkapkan isi hatinya. Berbeda dengan wanita yang lebih leluasa berbagi suka-duka dengan teman atau keluarga.

Untuk dapat melalui masa-masa sulit pasca keguguran, dianjurkan bagi pasangan tersebut untuk saling terbuka, saling mendukung, dan berusaha mengatasi masalah bersama. Komunikasi, konseling, dan penerimaan adalah kunci utama untuk mengatasi bahaya keguguran pada aspek psikologis.